Sumba adalah nama pulau di Nusa Tenggara Timur, banyak sebagian yang “keliru” menganggap sumba sama dengan sumbawa, namun sebenarnya secara georgrafis Sumbawa terletak di propinsi NTB sedangkan Sumba di NTT. Pulau Sumba terkenal dengan pesona alamnya yang luar biasa indah terutama di Sumba Barat selain itu Sumba adalah salah satu wilayah yang masyarakatnya masih mempertahankan  keaslian suku (kebudayaan) ditengah pengaruh asing dan modernisasi yang masuk ke wilayah Sumba. Masih banyak perkampungan adat dan situs sejarah yang dikenal sebagai Desa Megalitikum (karena banyaknya sisa peninggalan jaman batu di daerah ini berupa sarkofagus dan peninggalan jaman batu lainnya)

 

Suku dan kebudayaan di Sumba

Pulau Sumba didiami oleh suku Sumba dan terbagi atas dua kabupaten, Sumba Barat dan Sumba Timur. Masyarakat Sumba cukup mampu mempertahankan kebudayaan aslinya di tengah-tengah arus pengaruh asing yang telah singgah di kepulauan Nusa Tenggara Timur sejak dahulu kala. Kepercayaan khas daerah Marapu, setengah leluhur, setengah dewa, masih amat hidup di tengah-tengah masyarakat Sumba ash. Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara-upacara adat, rumahrumah ibadat (umaratu) rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya, ragam-ragam hias ukiran-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat busana seperti kain-kain hinggi dan lau serta perlengkapan perhiasan dan senjata.

keaslian suku tradisional sumba

Di Sumba Timur strata sosial antara kaum bangsawan (maramba), pemuka agama (kabisu) dan rakyat jelata (ata) masih berlaku, walaupun tidak setajam dimasa lalu dan jelas juga tidak pula tampak lagi secara nyata pada tata rias dan busananya. Dewasa ini perbedaan pada busana lebih ditunjukkan oleh tingkat kepentingan peristiwa seperti pada pesta-pesta adat, upacara-upacara perkawinan dan kematian dimana komponen-komponen busana yang dipakai adalah buatan baru. Sedangkan busana lama atau usang biasanya dipakai di rumah atau untuk bekerja sehari-hari.

Bagian terpenting dari perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar kain hinggi untuk pria dan lau untuk wanita. Dari kain-kain hinggi dan lau tersebut, yang terbuat dalam teknik tenun ikat dan pahikung serta aplikasi muti dan hada terungkap berbagai perlambangan dalam konteks sosial, ekonomi.

Menuju Sumba

Untuk mencapai Sumba,  Anda tinggal naik pesawat tujuan Pulau Bali atau tujuan Kupang, ibukota Provinsi NTT. Selanjutnya ada dua pilihan jalur yakni melanjutkan ke Tambolaka (sumba barat daya) atau menuju bandara di Waingapu (sumba timur). Anda juga bisa menggunakan jalur darat dan laut. Dari arah Barat, Anda bisa naik bus menuju Pelabuhan Sape, Nusa Tenggara Barat, dan dilanjutkan dengan kapal feri menuju Pelabuhan Waikelo Sumba Barat Daya. Setelah sampai Sumba Barat Daya, Anda bisa naik bus, travel, mobil carteran, atau ojek menuju Waikabubak, ibukota Sumba Barat.

Saya kebetulan ada project di sumba tengah yang merupakan kabupaten baru hasil pemekaran, dari sumba barat daya menuju sumba tengah ditempuh menggunakan mobil carteran yang banyak dijumpai dibandara dengan tarif 200-300ribu, perjalanan akan ditempuh kurag lebih 2 jam dengan kondisi jalan yang kurang bagus karena masih proses pengerjaan ( 30Mei2012). Di Sumba tengah hanya ada satu alternatif penginapan yakni di Wisma Solapora (dikelola oleh PEMKAB) dengan tarif cukup murah (110-165rb /malam).

Di Sumba Barat, Anda dapat menginap di hotel-hotel kelas melati yang berada di Waikabubak. Sebagai rekomendasi, Anda bisa memilih Hotel Aloha dan Hotel Karanu di Jalan Sudirman serta Hotel Pelita di Jalan Ahmad Yani. Ketiga hotel tersebut hanya memiliki fasilitas kipas angin (Non-AC), bak mandi tanpa shower, dan tidak ada air panas. Jika ingin hotel dengan fasilitas AC, Anda bisa menginap di Monalisa Cottages di Jalan Raya Waikabubak dan Hotel Manandang di Jalan Pemuda. Tarif untuk hotel Non-AC mulai dari Rp. 200.000,- dan hotel AC mulai dari Rp. 300.000,-. Anda juga bisa menginap di Nihi Watu Resort atau Sumba Nautil Resort dengan tariff mulai dari Rp. 1-12 Juta. Sebagai alternatif, Anda juga bisa menginap di homestay di tepi pantai atau menginap di rumah-rumah warga setempat.

 

Kuliner Khas Sumba

Sumba Barat sebenarnya bukan surga bagi pecinta kuliner karena susah untuk mencari warung yang menjual makanan khas Sumba Barat. Beberapa makanan khas di Sumba Barat antara lain tumis bunga papaya, ikan asin, dan ikan baker khas Sumba Barat. Jika ingin mencicipinya, Anda harus memesan kepada pihak hotel karena mereka baru akan memasak bila ada tamu yang memesan. Anda juga bisa membeli sendiri ikan segar di pasar dan membakarnya di tepi pantai. Sementara rumah makan atau warung yang bisa Anda temukan di Sumba Barat antara lain rumah makan Padang, warung bakso, warung sate, dan warung khas Jawa. Umumnya warung-warung tersebut tutup pada pukul 21.00 waktu setempat.

 

Destinasi Wisata di Sumba

Selain Festival Pasola yang sudah go international, Sumba Barat masih mempunyai potensi wisata budaya yang harus Anda saksikan. Di antara bulan Oktober-November, Anda bisa menyaksikan acara adat Wulla Poddu yang diselenggarakan untuk menyongsong bulan suci atau tahun baru bagi pemeluk kepercayaan Marapu. Ada banyak ritual adat pada pelaksanaan Wulla Poddu itu yang diawali dengan pemotongan ayam oleh para tetua adat dari masing-masing suku. Selain itu, Anda juga bisa mengunjungi kampong-kampung adapt seperti Kampung Tarung, Kampung Waigali, dan Kampung Ubeli. Di Sumba Barat, Anda juga bisa mengunjungi Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan beberapa situs megalitikum. Anda sebaiknya juga tidak melewatkan pantai-pantai indah di Sumba Barat, seperti Pantai Binatu, Pantai Pahar, dan Pantai Ngadu Bolu.

 

Acara Adat dan budaya di Sumba

Acara Bau Nyale merupakan daya tarik yang dapat dijadikan satu paket wisata andalan bagi kawasan wisata ini. Secara ilmiah, cacing Nyale yang pernah diteliti mengandung protein hewani tinggi sekali. Pernah dijelaskan oleh penelitinya, Dr dr Soewignyo Soemohardjo, cacing Nyale ini telah diketahui mengeluarkan suatu zat yang sudah terbukti bisa membunuh kuman-kuman.
Dari sebuah laporan survey aspek sosio budaya Nyale, diketahui 70,6 persen responden membuang daun bekas pembungkus Nyale ke sawah supaya hasil tanaman padi akan melimpah ruah dan memberi tahu tanaman padi bahwa nyale telah selesai ditangkap yang berarti hujan akan berhenti. Acara Bau nyale ini rutin diadakan masyarakat sumba dengan tujuan sebagai prediksi akan hasil panen pertanian mereka, semakin banyak cacing nyale ini didapatkan maka masyarakat percaya bahawa panen mereka kelak akan berhasil.

Ritual Pajura merupakan tradisi masyarakat Sumba yaitu adu tinju antara desa. Para peninju adalah anak-anak muda dengan menggunakan sarung tinju terbuat dari alang-alang. Ritual ini berlangsung pada dini hari, mulai pukul 00.00 sampai sekitar jam 04.00 pagi. Uniknya, tinju ini berlangsung di tepi pantai. Deru ombak dan teriakan penonton saling bersahut-sahutan membuat suasana tinju semakin panas. Sementara para peninju meneriaki suara ringkikan seperti kuda.  Masyarakat setempat percaya semakin berdarah maka hasil panen diyakini akan melimpah.

Adat Pasola berasal dari kata “sola” atau “hola”, yang berarti sejenis lembing kayu yang dipakai untuk saling melempar dari atas kuda yang sedang dipacu kencang oleh dua kelompok yang berlawanan. Setelah mendapat imbuhan `pa’ (pa-sola, pa-hola), artinya menjadi permainan. Jadi pasola atau pahola berarti permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yang sedang dipacu kencang antara dua kelompok yang berlawanan. Pasola merupakan bagian dari serangkaian upacara tradisional yang dilakukan oleh orang Sumba yang masih menganut agama asli yang disebut Marapu (agama lokal masyarakat sumba).Permainan pasola diadakan pada empat kampung di kabupaten Sumba Barat. Keempat kampung tersebut antara lain Kodi, Lamboya, Wonokaka, dan Gaura.Pelaksanaan pasola di keempat kampung ini dilakukan secara bergiliran, yaitu antara bulan Februari hingga Maret setiap tahunnya.

 

Pesona Sumba dalam Gambar

Pantai di Sumba Barat dari ketinggian

Panorama salah satu pantai di Sumba Barat

kampung tarung di waikabubak yang masih berpegang pada tradisi megalitikum

Kuburan batu banyak dijumpai di Sumba bahkan di pusat kota Sumba sekalipun

Dihimpun dari berbagai sumber

Iklan